tersebutlah kisah ketika Sulaiman a.s belum mendapatkan seorang pun
'istri' yang sangat diidamkannya diantara seribu istri-istrinya. Ia
terus mencari dan mencari hingga akhir hayatnya dan ternyata ia tidak
menemukannya.
adalah seorang bijak yang memperkirakan bahwa istri idaman yang dicari
oleh Sulaeman mungkin yang seperti Khadijah. namun mungkinkah Sulaeman
mendapatkan Khadijah
seandainya Khadijah hidup di zaman Sulaeman?
tidak mudah untuk menjawabnya, tetapi ada hal yang begitu penting untuk
dimengerti bahwa untuk mendapatkan Khadijah, seseorang terlebih dahulu
harus menjadi Muhammad. dan Sulaeman bukanlah Muhammad.
dan Sulaeman bukanlah Muhammad, itulah yang sering dikatakan sebagai
takdir. menemukan pasangan idaman mungkin sesuatu yang sulit, namun juga
mungkin sebagai sesuatu yang mudah. sederhananya adalah dari titik
mana kita berangkat.
di dalam kitab suci jelas dituliskan, pasangan untuk lelaki yang baik
adalah perempuan yang baik, demikian pula sebaliknya. ada penegasan
untuk suatu kesetaraan mutu. mutu yang saling berpasangan itu adalah
seimbang.
meskipun ketika Sulaeman masih hidup dan ada Khadijah hadir di
sekitarnya, Sulaeman pun tidak akan mendapatkannya. kualitas yang akan
mendapatkan Khadijah adalah kualitas Muhammad. sehingga "untuk
mendapatkan Khadijah, orang terlebih dahulu harus menjadi Muhammad".
yang kemudian sangat di sayangkan, ketika kita berharap menemukan
pasangan yang seperti di dalam angan-angan kita, tetapi kita lupa
menakar seberapa jauh kualitas kita untuk setara dengan yang kita
idamkan itu? menggapai bintang di langit tidak bisa dilakukan bila kita
hanya berpijak di bumi. kita harus terbang tinggi ke langit. terbang
tinggi ke langit berarti meningkatkan "mutu" kepribadian kita.
bila Khadijah yang kuidamkan, sudahkah saya menjadi Muhammad?


0 komentar:
Posting Komentar