Setiap pagi, begitu banyak ekspresi entah dalam bentuk sebaris ungkapan,
atau beberapa baris puisi, atau bahkan yang paling sering dalam bentuk
segenggam semangat kala menyambut hangatnya sang surya. Sementara di
hari yang lalu saat senja menjelang atau ketika hari mendekati ujung,
setumpuk evaluasi bersama sederet harap untuk menemui tetes embun
pertama esok hari. Siklus? Rutinitas? Atau istilah lainnya?
Sekarang mari kita anggap semua istilah itu tidak ada, sambil
melupakan segala teori dan fakta tentang astronomi. Kita mencoba menjadi
selugu-lugunya, sehingga menjadi sangat geli sehingga mudah tersulut
tawa pada diri sendiri. Ini akan membantu kita untuk mengintip sedikit
rahasia yang akan saya gambarkan di balik senja menuju pagi.
Sebagai manusia lugu, mari kita amati apa yang bergerak di dalam
batin kita ketika menyusun rencana setelah evaluasi rampung.? Untuk yang
tidak pernah evaluasi dan tidak pernah bikin rencana untuk esok hari
juga tidak apa-apa, bisa memulai dengan apa yang ada di benak kita
ketika di senja ini kita menyongsong fajar esok? Nah.. ada keyakinan
yang tidak kita sadari, mungkin karena sudah terlalu seringnya, adalah
besok di waktu pagi matahari akan terbit mengiringi pagi..terbitnya di
sebelah timur pula.
Belum sekalipun kita meragukan, jangan-jangan besok matahari
tidak jadi terbit.. atau jangan-jangan terbitnya nanti jam 10 pagi
(ukuran jam Indonesia).. atau siapa tau nanti terbitnya di selatan,
bukan di timur.. Setiap kita berangkat dengan suatu keyakinan yang sama.
Lalu mengapa demikian?
Karena kita sepakat melupakan ilmu astronomy, maka menjadi
sulit menjawab mengapa demikian. Mari kita lihat saja dari sudut
keluguan kita, bahwa ini adalah salah satu pelajaran yang terpahat di
salah satu bagian alam yang luas ini. Inilah salah satu tuntunan dari
Sang Pencipta, untuk kita.
Pernahkah terbayangkan, untuk selanjutnya kita praktekkan,
didalam menjalani kehidupan ini kita bisa seperti kondisi pagi dengan
matahari di timur? Entah. Namun dengan sederhana kita bisa bertanya
kepada diri sendiri, apakah orang bisa memandang kita seperti kondisi
tersebut? Ketika kita berjanji, ketika kita mengatakan sesuatu, ketika
kita bersikap terhadap kehidupan ini, orang akan yakin kepada kita
seperti keyakinan akan terbitnya matahari esok hari di timur?
Di sinilah letak rahasianya. Tahukah kita, bahwa di dalam
usaha untuk selalu konsisten dalam 'siklus matahari terbit pagi di
timur' itu selalu diiringi banyak hambatan, namun bukan berarti hal
tersebut mustahil.
Apa yang terucap sama dengan apa yang dilakukan. Setiap janji yang
terlontar adalah tanggungjawab yang hanya bisa dihalangi oleh maut.
Karenanya ketika orang berurusan dengan kita, maka orang akan merasakan
keyakinan yang sama ketika dia yakin akan besok pagi matahari terbit di
timur.
Bila kita telah memilih jalan mencontoh perilaku tersebut
dengan konsisten dan yakin, maka bersiaplah untuk menghadapi begitu
banyak keajaiban di dalam kehidupan. Bila suatu saat kita terlanjur
berucap sesuatu yang kemudian menjadi sulit untuk kita realisasikan,
maka Tuhan akan turun tangan untuk merealisasikannya. Tuhan tidak akan
rela melihat kita terpeleset menjadi orang yang tidak bisa dipercaya.
Itulah mengapa, melalui Pesuruh-Nya, Dia memperingatkan kita
untuk 'takut' pada kata-kata mereka yang selama ini selalu konsisten
menjaga kesesuaian ucapan, janji dan perbuatannya.


0 komentar:
Posting Komentar