Saya melangkah dengan sedikit terseok untuk kemudian memutuskan
untuk beristirahat sejenak di tepi sawah. Matahari sedikit lagi terbenam
sementara tujuan saya masih sekitar tiga kilometer dari tempat
sekarang. Dengan perlahan ransel yang berat saya letakkan di samping
lalu saya gunakan sebagai sandaran sambil meluruskan kaki yang penat.
Tidak lama berselang seseorang menghampiri saya. Dengan keramahan
khas penduduk desa, dia menyapa. Kami ngobrol kesana kemari, juga
menanyakan mengapa saya hanya sendiri dengan beban yang kelihatan berat.
Rupanya si Bapak ini sudah mengamati saya sejak tadi. Dengan singkat
saya jelaskan bahwa saya sedang merampungkan tugas mengumpulkan sampel
batu dari daerah sekitar ini. Saya tunjukkan bukit di depan, Bulu' Paria
dimana tadi menjadi tujuan saya dan mendapatkan sampel-sampel batuan
yang ada di dalam ransel. Bulu Paria yang mengerucut khas bentuk gunung
api, tepat di depan Gunung Bulusaraung bila dipandang dari arah
Leang-leang.
Benar, saya sedang di daerah Leang-leang. Si
Bapak masih dengan ramah ngobrol dan bercerita apa saja. Apa lagi
ketika saya menunjuk ke Bulu Paria yang mana telunjuk saya sekligus
menunjuk Bulusaraung di belakangnya, beliau menjadi semakin bersemangat.
Satu kalimat yang begitu terkesan, ketika beliau berkata '..itu Bulusaraung..lihat mi.. itu mi gunung paling tinggi di dunia..coba lihat keliling, tidak ada mi yang lebih tinggi..'
Begitu polos, begitu tulus tanpa keangkuhan sedikitpun, begitu
sederhana dan yakin dengan apa yang diucapkannya. Saya hanya
mengangguk-angguk mendengarkan. Penggalan percakapan itu yang kemudian
selalu tersimpan di dalam ingatan saya, untuk selalu mengusik
keingintahuan saya sehingga si Bapak bisa berkesimpulan demikian.
Kami berpisah setelah saling bersalaman, si Bapak melangkah
menjauh, sayapun melanjutkan langkah ke tujuan semula. Banyak tanya dan
jawab yang silih berganti selama bertahun-tahun melintasi benak saya.
Juga tak kalah banyaknya wawasan yang terlontar, ketika cerita ini saya
sampaikan di kala senda gurau. Namun saya juga yakin masih banyak
wawasan lainnya yang belum sempat terlontar untuk dicerna bersama.
Wawasan yang terpendam bersama senyap di dalam tafakur.
Adakah jawab yang lain.?


0 komentar:
Posting Komentar